Kurniawan Blogs

Just share about knowladge

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Buletin

Rasa Bahagia, Jika Bisa Membahagiakan Istri

BANYAK pasangan bertanya, bagaiamana tips agar kita dapat membahagiakan pasangan kita? Kita tidak akan bahagia selagi orang di sisi kita tidak ikut bahagia. Itulah kuncinya. Impilikasinya, agar kita bahagia, carilah orang yang paling dekat dengan kita dan bahagiaakanlah mereka. Setelah itu, barulah kita akan merasa bahagia. Sesungguhnya bahagia itu bukan "benda" yang akan berkurang bila diberikan, tetapi ia seumpama cahaya yang semakin "diberikan" akan bertambah sinar terangnya. Ada kata orang bijak pandai, “dengan menyalakan lilin ke orang lain, lilin kita tidak akan padam... tetapi kita akan mendapat lebih banyak cahayanya.”

Siapakah orang –orang terdekat dan yang paling layak kita berikan kebahagiaan? Selain kedua ibu-bapa, maka para suami harus membahagiaan istrinya. Karena ialah yang paling utama harus mendapatkan kebahagiaan itu. Jika istri kita tidak merasa bahagia, jangan harap kita dapat membahagiakan orang lain. Dan paling penting, jika istri sudah menderita itu juga pertanda kita juga akan ikut menderita. Ingat, kita tidak akan bahagia selagi orang di sisi kita tidak ikut menikmati kebahagiaan.

Apakah langkah pertama untuk membahagiakan istri? Pertama, hargailah kehadirannya. Rasakan benar-benar bahwa si dia adalah anugerah Allah yang paling berharga. Jodoh kita itu merupakan anugrah yang telah dikirim Allah khusus sebagai teman hidup kita sepanjang masa ketika hidup di dunia ini.  Karena itu, jangan pernah sia-siakan ia.

Ingatlah bahwa yang paling berharga di dalam rumah kita bukannya perabot, bukan peralatan eletronik, komputer ataupun barang-barang antik yang lain. Yang paling berharga ialah manusianya – istri atau suami kita itu. Itulah" modal insan" yang sewajarnya lebih kita hargai daripada segala-benda yang mudah rusak itu. Masalahnya, benarkah kita telah menghargai istri melebihi barang-barang berharga di rumah kita?

 

Peranan Wanita Di Dalam Masyarakat

Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Peranan Wanita Di Dalam Masyarakat

Perbaikan masyarakat ada dua macam, yaitu:
1. Perbaikan yang Zhahir (Tampak)
Yaitu perbaikan yang biasa dilakukan di tempat-tempat terbuka, seperti: Masjid, pasar, tempat kerja dan sejenisnya. Perbaikan ini tertuju kepada kelompok laki-laki karena merekalah yang banyak melakukan aktivitas di luar dan sering menampakkan diri.

2. Perbaikan di Balik Tabir (di belakang layar, red)
Ia adalah perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Urusan ini biasanya diperankan oleh kaum wanita, karena merekalah pengatur urusan-urusan intern rumah tangga, sebagaimana difirmankan oleh Allah kepada istri-istri Nabi saw , yang artinya: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (Al-Ahzab: 33)

PENTINGNYA PERAN WANITA DALAM MEMPERBAIKI MASYARAKAT

Berkata penulis risalah ini (as Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin) rahimahullah, “Sesungguhnya perbaikan separuh dari jumlah masyarakat yang ada, bahkan sebagian besarnya tidak akan pernah bisa dipisahkan dari peran wanita,” hal ini karena dua alasan:

Pertama, jumlah wanita sama banyak dengan jumlah laki-laki, bahkan bisa lebih banyak dari laki-laki sebagai-mana pernah disebutkan dalam hadits Rasulullah shalallahu'alahi wassalam. Akan tetapi, perbandingan ini terkadang berubah-ubah setiap waktunya atau berbeda-beda antara tempat yang satu dengan yang lain. Kadangkala di suatu negara wanitanya lebih banyak dibanding laki-laki, namun di negara lain sebaliknya, laki-lakinya yang lebih banyak.

Demikian pula pada suatu waktu terkadang wanita lebih banyak dari laki-laki dan di waktu lain terjadi sebaliknya laki-laki yang lebih banyak. Yang jelas bagaimanapun keadaannya, wanita tetap memiliki peran yang penting dalam perbaikan masyarakat.

Ke dua, pertumbuhan generasi muda pada awalnya pasti beranjak dari pangkuan seorang ibu (wanita). Dengan demikian, maka tampak jelas bagaimana pentingnya peran yang harus diemban oleh para wanita dalam memperbaiki masyarakat.

Kiat Mengatasi Masa Pubertas Anak

Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

KIAT MENGATASI MASA PUBERTAS PADA ANAK

Ada satu fase dari pertumbuhan anak yang paling dikhawatirkan oleh para orang tua, karena pada fase ini seorang anak mulai beranjak dari masa kanak-kanak ke masa pengenalan jati dirinya. Fase ini sering disebut dengan masa pubertas atau pancaroba.

Pada fase ini, seorang anak berada di persimpangan jalan antara istiqamah dan penyimpangan!? Oleh karena itu, mengatasi dan melewati fase ini dengan mulus merupakan harapan setiap orang tua!

Definisi Pubertas

Dari aspek biologis, pubertas merupakan fase yang dimulai dari usia baligh alias kematangan biologis hingga terbentuknya tulang secara sempurna yang sering dinamakan dengan fase baligh. Fase ini biasanya berada antara usia 12 tahun dan 18 tahun.

Bila dibagi, maka menjadi dua fase:
Pertama; fase Pubertas. Yaitu dari usia 12-14 tahun, merupakan fase menam-pakkan sikap sangat kasar dan bergejolak.

Ke Dua; fase Baligh. Yaitu dari usia 14-18 tahun di mana tingkat kekasaran sudah berkurang, namun masih merupakan perpanjangan dari fase pertama.

Masa Pubertas Identik dengan Prilaku Negatif?

Sejumlah kajian dan penelitian ilmiah membantah teori yang berpandangan bahwa fase pubertas adalah fase topan dan badai kejiwaan. Keguncangan jiwa yang mencolok pada diri seorang anak yang memasuki masa pubertas tidak lain adalah proses alami akibat perubahan biologis yang dilewatinya, yaitu fase kejiwaan yang memiliki karakteristik umum di kalangan semua individu manusia di mana pun mereka berada.

Realitasnya, teori ini tidak benar sebab sangat jelas ditentang oleh pendapat yang santer sekarang ini, yaitu pandangan bahwa problematika pubertas, bila pun ada, maka itu dilatarbelakangi oleh kondisi kebudayaan, sosial, dan pertumbuhan yang dialami seseorang, bukan sekedar perkembangan biologis saja!

Beberapa penelitian yang dilakukan di negara Arab dan di luarnya terhadap sejumlah anak-anak yang memasuki masa Pubertas berakhir pada kesimpulan:

  • Masa Pubertas tidaklah mesti merupakan masa 'topan dan badai' kejiwaan.
  • Fase Pubertas dianggap fase perpindahan dari masa kanak-kanak yang bergantung sepenuhnya kepada orang lain kepada fase baligh, yang matang, independen, dan mandiri.

Latest Comment

RSS
You are here: N e w s N e w s Buletin