Kurniawan Blogs

Just share about knowladge

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Dampak Negatif IT 2

Senjata Jitu Menghancurkan Moral dan Aqidah
Jum'at, 01 April 2011 | 03:48 WIB

Media Elektronik Senjata Paling Jitu Untuk Mefitnah dan Menghancurkan Moral/ Aqidah

Artikel ini sengaja saya tulis untuk melengkapi artikel saya tanggal 25 Maret 2011, dengan judul : “ TEKNOLOGI INFORMASI BISA MENGHACURKAN MORAL DAN AQIDAH “.

Sebagaimana kita ketahui bahwa penyampaian pesan / berita dari pemilik pesan / berita kepada penerimanya, selain dapat dilakukan melalui media cetak juga dapat dilakukan melalui media elektronik, bahkan ternyata pesan yang disampaikan melalui media elektronik ini jauh lebih mudah difahami, dicerna dan diterima oleh penerima pesan, karena berita / pesan melalui media elektronik kadang bisa di visualkan secara langsung, atau paling tidak melalui rekaman, dengan demikian meskipun berita tersebut disampaikan dalam bahasa yang tidak bisa kita fahami, ternyata para pemirsa langsung bisa mengerti dan tidak perlu susah-susah menterjemahkan lagi, bahkan sebagian besar langsung mempercayai isi berita tersebut.

Padahal dengan kecanggihan teknologi, fakta dan berita bisa diputar balikkan, kebenaran bisa disampaikan sebagai kebohongan, sebaliknya kebohongan bisa disampaikan sebagai kebenaran.

Celakanya saat ini hampir semua media, termasuk media elektronik sudah dikuasai oleh Barat / Kapitalis, sedangkan umat Islam sendiri hanya sebagai konsumen, maka jangan heran jika selama ini umat islam hanya menjadi objek berita atau menjadi korban berita, apalagi media barat mempunyai prinsip bahwa tidak ada berita yang jujur atau berita yang bohong, namun yang ada adalah berita yang cerdas atau berita yang bodoh, berita yang cerdas adalah berita yang tidak terbongkar kebohongannya sedang berita yang bodoh adalah berita yang terbongkar kebohongannya.

Sebagai catatan : salah satu bukti kebohongan media ( televisi ), mungkin masih ada yang ingat kira-kira satu tahun yang lalu tentang adanya tayangan di salah satu media televisi yang menghadirkan narasumber yang katanya makalar kasus ( markus ) yang seakan narasumber tersebut benar-benar merupakan makelar kasus besar, namun setelah diselidiki dan diusut Polisi ternyata nara sumber tersebut tidak benar, maka pernahkah kita mendengar pernyataan / klarifikasi dari TV pernyebar berita tersebut bahwa beritanya bohong ? tidak pernah kan ? yang bisa kita tangkap dari pernyataan / klarifikasi penyebar berita adalah nara sumber yang dihadirkan tidak akurat. Bukankah sebenarnya berita tersebut merupakan kebohongan besar, yang jika tidak terungkap akan kita telan mentah-mentah seakan merupakan suatu kebenaran.

Yang lebih celaka lagi sebagaimana sering dialami umat islam, media elektronik sering dijadikan alat untuk menghancurkan umat islam, baik dengan jalan mengadu domba sesama umat islam atau dengan umat lain, atau dengan sengaja menyudutkan dan memfitnah umat islam.

Coba kita amati secara cerdas, jika ada tindak kekerasan dimana umat islam ada didalamnya meskipun umat islam sebagai korban, dijamin beberapa media elektronik di negeri ini mem “ blow up “ secara besar-besaran dan menyiarkan ber hari-hari, dengan berusaha menyudutkan umat islam seakan-akan umat islam sebagai pelaku kekerasan.

Apalagi jika urusannya “ BOM “, maka begitu bersemangat para media kapitalis / zionis menyudutkan umat islam dengan mem blow up berita tersebut secara besar-besaran dengan mengundang beberapa nara sumber dari kalangan islam sendiri yang mau menyudutkan islam “ tentu dengan imbalan bayaran materi yang menggiurkan “ ( mau menjual aqidahnya dengan harga murah ), dan sekali lagi pasti dengan lagu wajib “ TERORRIST “.

Sebenarnya kita semua sangat faham bahwa yang dimaksud terrorist sebagaimana yang disampaikan iblis Bush dengan semboyannya yang terkenal : “ Bersama Amerika atau bersama terrorist “ adalah “ umat islam yang berpegang teguh menjalankan syari’at Allah “, sedang yang diluar itu ( termasuk yang mengaku islam tapi tidak menjalankan islam secara benar ) meskipun kejahatan yang dilakukan segunung, maka jangan harap ada stempel “ terrorist “

Padahal belum tentu bahwa kasus-kasus bom tersebut yang melakukan benar-benar orang islam, karena sekali lagi dengan kecanggihan teknologi, kebohongan bisa disampaikan sebagai kebenaran atau sebaliknya.

Suatu bukti bahwa “ stempel terrorist “ tidak pernah diberikan kepada selain  “ umat islam yang berpegang teguh menjalankan syari’at Allah “ meskipun kejahatannya segunung, diantaranya adalah pembantaian umat islam yang sedang shalat id di Ambon, pembantaian santri-santri pondok pesantren di Poso dan masih banyak lagi, pernahkah pelakunya di beri “ stempel terrorist “ ?

Masih terlalu banyak kebohongan-kebohongan yang kita lihat dan kita dengar dari media Televisi seakan suatu kebenaran, khususnya isu terrorist di Indonesia, atau opini-opini yang menyudutkan umat Islam, namun hingga saat ini tidak ada kekuatan dari umat Islam sendiri yang bisa membongkar kebohongan tersebut, padahal sebagian besar penguasa dinegeri ini katanya juga muslim. Umat Islam yang sebenarnya mayoritas dinegeri ini ternyata hanya sebagai konsumen berita atau bahkan sebagai obyek berita, maka tidak mengherankan bila tidak ada yang bisa diperbuat kecuali menelan mentah-mentah semua berita/informasi karena kebodohan umat Islam sendiri..

Sudah bukan rahasia lagi jika para kapitalis Barat mau membayar mahal bagi intelektual Islam yang mau menanggalkan dan menjual aqidahnya dengan membuat opini yang bisa menggiring umat Islam menuju kesesatan atau menyudutkan umat Islam itu sendiri seakan-akan Islam itu kolot, fundamentalis, ekstrimis, radikalis dan terrorist sedangkan barat adalah toleran dan modern.

Pertanyaannya mengapa para kapitalis barat mau membayar mahal intelektual islam hanya dengan tulisan ?, karena Barat sangat yakin dan ini sudah terbukti dalam sejarah bahwa mereka tidak akan bisa menghancurkan Islam dengan dengan senjata, meskipun dengan senjata yang super modern dan anggaran sangat besar sekali.

Kita bisa menyaksikan bagaimana nasib Inggris dan Rusia di Negara Islam Afghanistan, meskipun dengan senjata yang super modern dengan biaya yang luar biasa besarnya, mereka ternyata tidak mampu menundukkan Negara Islam Afghanistan, bahkan sebaliknya Afghanistan menjadi kuburan masal bagi tentara Inggris dan Rusia.

Dan insyaallah sebentar lagi Amerika beserta antek-anteknya akan mengalami nasib yang sama seperti Inggris dan Rusia, meskipun Amerika telah menghabiskan biaya lebih dari $ US 3 trilyun dan ribuan tentaranya mati sia-sia, Amerika tak akan memenangkan perang ini.

Jadi hanya ada satu cara untuk menghancurkan Islam, bahkan biayanya sangat murah, yaitu mengadu domba umat Islam dengan membeli para intelektual Islam yang mau menanggalkan dan menjual aqidahnya dengan membuat opini yang bisa menggiring umat menuju kesesatan yang akhirnya akan menimbulkan perpecahan dikalangan umat Islam itu sendiri.

Oleh karena itu melalui tulisan ini sekali lagi saya ingin mengingatkan kepada seluruh umat Islam, khusunya para pemimpin Islam dan para intelektual Islam, jangan kau gadaikan atau jual aqidahmu dengan imbalan materi karena insyaallah itulah yang akan menjadi tambahan kayu bakar kamu di neraka nanti, dan jangan mencapur adukkan yang haq dan yang bathil, karena Islam adalah kebenaran dan haq sedangkan yang lainnya adalah bathil.

Dalam hal kejahatan di bidang ekonomi yang jelas-jelas menghancurkan perekonomian Negara serta menyengsarakan jutaan rakyat, pernahkah mereka diberi “ stempel terrorist “ , padahal sebenarnya dampak yang mereka lakukan sangat jauh merusak.

Kita masih ingat kasus BLBI yang menguras uang Negara ratusan trilyun rupiah yang hingga kini tidak pernah kembali, mana pernah mereka mendapat stempel terrorist, jangankan stempel terrorist, mereka saat ini justru bisa dengan leluasa dan santainya menikmati hasil jarahannya tanpa ada menjalani hukuman, bahkan tidak sedikit yang sampai saat ini masih menyuapi para petinggi negeri ini ( ingat kasus jaksa urip ), padahal BLBI tersebut direncanakan melalui skenario besar dan rapi ( Baca artikel saya dengan judul BLBI : Bencana Luarbiasa Bangsa Indonesia ).

Begitu juga kasus Bank Century, yang selain menguras uang Negara trilyunan rupiah juga uang rakyat ( nasabah ) disikatnya, akibatnya tak sedikit mereka yang stress, gila, bahkan bunuh diri, dan meskipun sudah diadakan Pansus di DPR dengan biaya milyaran rupiah, ternyata hasilnya sampai detik ini juga nol besar ( ternyata wakil rakyat juga tak berkutik, tapi yang penting kan 5 milyar )

Bukti lain bahwa media elektronik adalah senjata yang jitu menghancurkan moral dan aqidah umat Islam adalah Tayangan Televisi, coba kita perhatikan dengan kejernihan hati tayangan-tayangan yang ada di televisi, maka sebenarnya sebagian besar tayangan di televisi berisi tayangannya menyesatkan dan merusak, bahkan menurut pengamatan saya lebih dari 80% tayangan di televisi merupakan tayangan yang menyesatkan dan merusak.

Setiap hari, setiap jam, setiap menit, kita hanya disuguhi tayangan-tayangan yang jorok/sadis dan tidak bermoral, bahkan sinetron-sinetron yang sebenarnya hanya berisi kekerasan, perkosaan, perselingkuhan, pelecehan bahkan kesyirikan, sengaja dibungkus dengan label agama agar terkesan religius, belum lagi iklan-iklan yang secara terang-terangan mengajak manusia untuk melakukan kesyirikan, yang sebenarnya semua itu adalah racun yang secara perlahan dan pasti merusak moral dan aqidah umat.

Valentine day yang jelas-jelas budaya penyembah berhala sebagai hari kebebasan seks dan penghormatan atas kematian seorang kafir, dihidup-hidupkan dan diperingati sebagai hari kasih sayang, dan anehnya dengan berbagai propaganda yang dilakukan berbagai media, khususnya media Televisi, banyak umat Islam yang larut dalam kesesatan ikut merayakan dan memperingati-nya.

Sebaliknya kematian ratusan ribu umat muslim yang tidak berdosa di Iraq, Afganistan, Lebanon, dan Palestina akibat kebiadaban dan kebrutalan Amerika dan Zionis dengan jutaan ton bom yang dijatuhkan ke Negara tersebut tidak pernah ada yang menggubrisnya. !!!!

Bukan hanya sinetron saja yang menyesatkan, bahkan kajian agama pun juga sudah banyak yang dibumbui dengan dengan hal-hal yang sebenarnya justru bertentangan dengan islam itu sendiri, tapi sekali lagi tujuannya pemilik media bukan syi’ar islam, tapi hanya sekedar mencari keuntungan materi, jadi mereka tak akan peduli dengan apa yang disampaikan para da’i, yang penting dengan da’i tersebut pemasang iklan mau membayar mahal.

Celakanya kebanyakan para Da’i dan Ustadz yang dipakai adalah mereka yang mau mengikuti alur pemikiran para pemilik media atau mau mengikuti pesan sponsor, atau memang Da’i-da’i yang pemikirannya memang sudah banyak menyimpang, dan jangan heran kalau da’i semacam ini justru dibayar mahal, karena pemasang iklan juga mau membayar mahal.

Pertanyaannya, mengapa pemasang iklan mau membayar mahal dalam tayangan kajian agama yang da’i nya banyak menyimpang, jawabnya tentu mereka mau membayar mahal karena produk yang dipasarkan bisa merusak dan da’inya juga bisa merusak moral dan aqidah umat, kita sebenarnya juga tahu siapa para pemilik modal tersebut, ini jarang diperhatikan umat islam.

Begitu juga media komunikasi, telpon cellulair/handphone dan Internet, teknologi ini memang banyak memberikan kemudahan kepada kita, namun dampak negatifnya begitu luar biasa hebatnya, karena selain untuk komunikasi, teknologi ini juga banyak dipergunakan untuk penyebaran pornografi, arena perjudian terselubung berupa kuis dengan iming-iming berbagai hadiah, bahkan saat ini hampir semua stasiun TV berkolaborasi dengan operator telpon cellulair berlomba menyebarkan kesyirikan berupa ramalan-ramalan yang menyesatkan.

Atau memang inilah yang memang dicita-citakan oleh media kita sebagai suatu kebebasan, kebebasan berkreasi meskipun melanggar nilai-nilai yang sebenarnya di Negeri kafirpun masih berlaku aturan dan batasan.

Ada sebuah temuan menarik yang dilakukan oleh suatu lembaga survey di Jogja kira-kira dua tahun yang lalu, dari hasil penelitiannya, para mahasiswa di Jogja ternyata lebih senang membeli pulsa dari pada buku pelajaran, tidakkah ini merupakan salah satu sebab merosotnya kwalitas pelajar/mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa, karena selain minimnya buku yang ia miliki, waktu belajarpun pasti tersita untuk main handphone, ini tentunya hanya salah satu contoh dari dampak negatif.

Berita palsu, bohong dan fitnah oleh media barat / kapitalis juga tak jarang dialamatkan kepada islam / organisasi islam, khususnya yang sering menyuarakan kebenaran dan menyampaikan amar ma’ruf nahyi mungkar, sebagaimana yang sering dialami FPI, celakanya berita bohong, palsu atau fitnah tersebut sulit diklarifikasi melalui media yang bersangkutan, karena bila klarifikasi diterima mungkin sponsor akan lari.

Berita bohong atau palsu tersebut diantaranya yang baru saja diklarifikasi oleh FPI adalah berita yang dimuat oleh “ Al-Jazeera “ tentang Dewan Revolusi Islam dan “ The Jakarta Post ” dengan judul “FPI sets its eyes on underground music”

Maka dengan adanya klarifikasi dari FPI semakin jelas bahwa berita tersebut adalah merupakan suatu kebohongan dan fitnah, padahal sebelumnya berita tersebut seakan suatu kebenaran, kali ini nampak jelas kebodohan penyampai berita, karena kebohongannya bisa terbongkar.

Oleh karena itu satu-satunya jalan agar kita tidak selalu dibohongi oleh media yang tujuan utamanya selain untuk meraup keuntungan dunia juga untuk menghancurkan Islam, maka umat islam harus cerdas, agar kita bisa membongkar kebohongan mereka

Sekali lagi teknologi informasi sepintas memang tidak menakutkan sebagaimana teknologi militer, namun kadang justru sebaliknya, informasi yang telah diolah sedemikian rupa dapat menjadi hiburan yang menyenangkan sehingga para penikmat ( pemirsa, pendengar dan pembaca ) tidak sadar bahwa dia telah dibawa menuju kesesatan.

Oleh karena itu apabila datang berita dari orang fasik kita harus telitu dahulu, dan berhat-hati dalam menyikapinya, karena Allah mengingatkan kepada kita sebagaimana firmannya dalam Al-qur’an surat A-Hujurat ayat 6 yang artinya :

“Hai orang-orang yg beriman jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal dengan perbuatan itu.”

Mudah-mudahan kita bisa selalu berpegang teguh pada tali Allah, karena mekipun orang-orang munafik hendak memadamkan cahaya ( agama ) Allah dengan mulut-mulutnya, maka Allah telah menyempurnakan cahayaNya sebagaimana firmanNya dalam Al-qur’an surat Asy-Shaf yat 8, yang artinya :

“Mereka (orang munafik) hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka. Dan Allah telah menyempurkan cahayaNya, meskipun orang kafir membenci.

Penulis: R Mintardjo Wardhani

sumber: fpi.or.id

Add comment

Security code
Refresh

Latest Comment

RSS
You are here: N e w s Opini Public Opinion Dampak Negatif IT 2